PENCURI
HATI
Seperti biasa, Renia sibuk mempersiapkan
roti-roti yang akan dipajang di etalase coffeshop tempat ia bekerja. Hampir
tiga bulan lamanya Renia bekerja disana dan selama itu pula ia dipercaya oleh
Miss farah, si pemilik cafe untuk menghandlenya. Miss Farah itu gelar mereka
pada si pemilik cafe, umurnya baru menginjak 24 tahun dan wajahnya yang ayu,
sangat memikat.
Hari ini miss Farah mau menjamu
teman-teman lamanya di cafe dan hampir semua karyawan masuk dan sibuk dari jam
enam pagi tadi. sebentar lagi tamu-tamu Miss Farah datang, Renia segera memberi
instruksi pada teman-temannya untuk segera bersiap-siap.
Tepat pukul sembilan. Semua tamu
undangan datang. Renia langsung memberikan instruksi pada sebagian
rekan-rekannya untuk stand by berdiri di tempat yang telah ditentukan tadi.
Renia sendiri berdiri tepat di depan pintu.
Tampak Miss Farah datang dengan Jazz
merahnya mengenakan setelan modis ciri khasnya dengan dandanan minimalis sangat
memikat.
“Kerja yang bagus” ujar Miss Farah setengah
berbisik pada Renia. Renia membalas dengan senyuman menarik.
“Terima kasih, Miss” balasnya.
“Oh ya, nanti ada tamu spesial yang
datang, tolong kamu layani dia dengan baik. karena dia begitu spesial bagi
saya” ucap Miss Farah merona.
“Baiklah, Miss” jawab Renia sekenanya.
Tapi Renia bisa menebak kalau tamu
spesial ini pasti laki-laki yang berhasil memikat Miss Farah yang begitu
selektif dalam memilih pasangan.
Sebuah Audi melesat berhenti tepat di
depan pintu cafe, sang pemilik turun dengan wibawanya, mengenakan setelan
kemeja biru bergaris halus sangat pas dengan badannya yang atletis dan paras
wajah yang sangat memikat.
Ketika kakinya melangkah masuk, semua
mata tertuju padanya. Renia tampak kaget karena tamu itu membuka pintu sendiri,
ia takut kena marah sama Miss Farah, langsung gelagapan dan menuju pintu masuk
namun sebuah insiden menimpanya. Renia selip dan bisa dibayangkan betapa
sakitnya jika pantatnya mendarat di lantai. Entah sambutan darimana, Renia
merasakan sebuah dekapan membantunya. Jantung Renia seakan berpacu dibuatnya.
“Berhati-hatilah” ucap suara berat itu
menyentakkan kesadaran Renia.
Dengan malu, renia berdiri sempurna
sambil menyembunyikan rona merah di wajahnya.
“Maafkan saya, pak” ucapnya kikuk.
“Tidak apa-apa” ucap laki-laki itu
sembari tersenyum.
“Kamu tidak apa-apa Renia” tanya Miss
Farah yang telah berdiri tepat di samping laki-laki yang menolong Renia.
“Tidak apa-apa, Miss” jawab Renia mmasih
tertunduk.
“Ok, yuk Kevin, aku mau ngajakin kamu
gabung dengan yang lain” ajak Miss Farah sambil mengapit pada lengan Kevin,
nama laki-laki itu.
kevin menganggukkan kepalanya dan
menyamakan langkah dengan Farah.
—
“Sorry ya, Far, gue rusak acara lo
kemarin” ucap Renia bersalah.
“Udah, ngapain lo sungkan gitu. Semua
baik-baik kok. Kevin sudah menolong lo” ujar Farah meyakinkan.
Farah dan Renia adalah teman lama yang
dipertemukan kembali di saat Renia mengantar lamaran di cafe milik Farah. Farah
langsung menerima Renia dan menjadikan sahabatnya itu sebagai orang kepercayaan
di cafe.
“Sepertinya tamu yang spesial itu dia”
goda Renia.
Pipi Farah merona seketika.
“Apaan sih, Re. Dia itu teman” ujar
Farah menyangkal.
“Oh ya” ujar Renia tidak percaya.
“Sudah ah, gue mau pulang. Hari ini lo
tutup sendiri yah” ucap Farah menyudahi.
“Ya Miss Farah” goda Renia, karena rona
merah di pipi Farah belum hilang.
Farah melemparkan senyuman khasnya pada
Renia dan langsung memutar badannya menuju parkiran.
Sepuluh menit lagi cafe tutup, Renia
sengaja menyuruh karyawan Yang lainnya segera tutup karena malam ini, Renia
ingin bereksperimen sebentar di dapur cafe. Tadi pagi ia sempat browsing resep
terbaru dan ingin mempraktikkannya.
“Kita duluan Re” ucap rekan-rekannya
pamit.
“Bye” balas Renia dan menutup pintu
cafe.
Belum sempurna langkahnya. Tiba-tiba
seseorang mengetuk pintu cafe.
Pasti pengunjung ngidam, pikirnya usil.
Renia segera membuka pintu cafe dan
mendapati laki-laki kemarin yang menolongnya.
Ada apa laki-laki itu datang kesini,
apakah dia mencari Farah. sebelum memutuskan untuk berbicara laki-laki itu
tersenyum padanya.
“Boleh saya masuk” tanya Kevin polos.
“Oh, silahkan” jawab Renia
mempersilahkan.
Kevin langsung masuk dan mengambil
tempat duduk di dekat counter kue.
“Kamu mau mencari Miss Farah?” tebak
Renia ragu.
“Tidak juga, tadi kebetulan lewat. Jadi
mampir gitu” ujar Kevin santai sambil mengamati suasana cafe yang terlihat
sepi.
“Kenapa sepi?” lanjutnya.
Renia menarik napas, sedikit kesal namun
bersikap dingin bukan lah tipenya.
“sudah jam sembilan, cafe sudah tutup
pak” ucap Renia santai sambil melirik jam di pergelangan tangannya.
“Owh, jadi aku pengunjung ilegal yah”
goda Kevin tersenyum, sedikit merasa bersalah.
“Tidak masalah pak”.
“Jangan panggil bapak, saya belum setua
itu. Panggil Kevin” ucap Kevin santai.
“Baiklah” ucap Renia ragu.
Pertemanan antar Renia dan Kevin pun di
mulai.
Semenjak percakapan malam itu, Kevin
sering berkunjung di saat semua karyawan telah pulang dan terkadang saat
breakfast Kevin suka menyempatkan diri datang ke cafe untuk sekedar santap
roti.
Malam ini, Kevin sengaja datang lima
menit sebelum tutup rencanya ia mau mengajak Renia jalan-jalan sebentar, entah
kenapa semenjak pertama kali bertemu ia tertarik dengan gadis itu.
“Sori, Kevin. Malam ini rencanya aku mau
bikin resep baru di dapur. Lain kali aja yah” ucap Renia tidak enak hati.
“Tidak masalah, mmm.. kalau begitu aku
bantu kamu bikin resep terbaru itu” ucap Kevin menyodorkan diri.
Setelah berpikir sejenak, Renia
mengiyakan tawaran Kevin. tanpa menunggu waktu mereka segera menuju dapur.
Renia telah mempersiapkan bahan-bahan
yang akan dipraktekkannya tadi.
Kevin tidak tahu harus memulai darimana
tapi dengan pasti ia mengamati gerakan lincah Renia dalam mengolah tepung dan
beberapa bahan yang lain yang Kevin tidak tahu.
Renia yang sibuk mengaduk bahan,
teringat Kevin yang dicuekinnya.
“Ayo sini, jangan bengong disana, tapi
mau bantuin” ucap Renia tersenyum.
Dengan pasti Kevin melangkah ke arah
Renia dan berdiri tepat di samping Renia.
“Aku tidak terlalu mengerti tentang
bahan-bahan kue” ujar kevin polos sambil mengamati bahan-bahan kue yang
tertangkap oleh pandanggannya.
“Kalau memakannya, ngerti kan?” goda
Renia.
Gelak tawa Kevin pecah dibuatnya. Renia
ikutan tertawa dan sesekali fokus sama adonannya.
“Kalau ini apa namanya” tunjuk Kevin
pada sebuah kotak yang terletak dengan tepung gula.
Renia mengarahkan pandangannya pada
tunjuk Kevin. ” Itu soda kue ” jawabnya.
“Kalau itu”.
“Vanilli bubuk”
“Terus ini” tanya Kevin sekali lagi
sambil mengarahkan tunjuknya pada pipi Renia. Ketika memalingkan muka, tepat
sebuah colekan coklat lengket di pipinya.
“Kevin” ujar Renia kesal, tidak terima
Renia membalasnya.
Terjadilah adegan lumuran coklat di pipi
masing-masing.
Kevin yang sudah menggenggam tepung
bersiap-siap melemparnya ke arah Renia. Renia yang mengetahuinya sigap
menghindar. Aksi kejar-kejaran tak terhindar. Langkah Kevin semakin mendekat,
Renia terpojok di dekat pintu dapur.
ketika langkah Kevin semakin mendekat,
Renia segera melesat tapi sayang lantai di dekatnya licin. Kevin sigap
Menyambutnya namun sayang mereka sama-sama terjatuh dan Renia tepat berada di
atas tubuh Kevin.
Pandangan mereka bersirobok. Debaran
jantung yang tak beraturan tak dapat mereka hindari satu sama lain.
Renia tak bisa menahan tawanya karena
melihat wajah Kevin yang berlepotan tepung dan coklat. Kevin jadi terpancing
tawanya.
Sesaat kemudian, mereka terdiam. Renia
sadar posisi ini tidak menguntungkan bagi mereka berdua.
Renia segera bangkit dari tubuh Kevin
dan pergelangan tangan Kevin tepat di pinggangnya, menahan.
Kevin menatap lekat-lekat wajah Renia
dan sedikit menghembuskan napas.
“I LOVE YOU” bisik Kevin mantap.
Renia terpaku mendengar ucapan dari
Kevin sebentar, ia merasa pendengarannya bermasalah.
“Aku sayang kamu” ulangnya lagi.
Sebuah senyuman mengembang di pipi
Renia. Kevin langsung menangkap arti senyuman itu dan segera memeluk erat tubuh
Renia. Perasaannya terbalas.
Renia berhasil mencuri hatinya, semenjak
pertemuan pertama itu bayangan wajah Renia selalu melekat di pikirannya. Dan
sekarang si pencuri hatinya benar-benar telah dimilikinya.
“Apa-apaan kalian” ucap sebuah suara,
memebuat Renia dan Kevin gelagapan. Suara seseorang yang sangat mereka kenal.
—
Farah terkejut karena mendapati Kevin
dan Renia dalam posisi yang tidak ingin dilihatnya.
“Kalian keterlaluan” ucap Farah setengah
berteriak dan perlahan namun pasti segera keluar meninggalkan cafenya.
Renia dan Kevin segera berdiri
memperbaiki posisinya.
“Bagaimana ini, Farah pasti marah” ucap
Renia bersalah.
“Tenang, Farah perlu penjelasan dari
kita” ucap Kevin menenangkan.
Setelah membersihkan diri secara kilat
Renia dan Kevin segera menyusul Farah yang setengah berlari menuju parkiran.
“Farah, tunggu” teriak Kevin berharap
Farah mau berhenti, namun percuma Farah semakin mempercepat larinya. kevin
segera mempercepat langkahnya.
Kevin berhasil mencegat Farah untuk
tidak masuk ke dalam mobil.
“Ada apa lagi, sudah cukup kalian
menyakitiku” ucap Farah marah.
“Menyakiti?” tanya Kevin bingung.
Renia berhasil menyusul keduanya di
parkiran dan mendapati Farah yang begitu marah padanya.
“Apa kamu tidak bisa membaca perasaanku,
Kevin” ucap Farah menahan perih.
kevin terkejut mendengar penuturan
Farah, selama ini dia menganggap Farah layaknya seorang saudara dan ternyata
perhatiaannya ini disalah artikan oleh Farah.
“Farah, aku…”.
“Sudahlah Kevin, aku cukup sadar. Dan
untuk kamu, Re. Selamat kamu berhasil merebut hatinya dari ku” ujar Farah penuh
tekanan.
Mendengar ucapan Farah, hati Renia
terasa tersayat di buatnya, sakit.
“Far, dengerin gue…”.
“Percuma, semua sudah jelas”.
“Farah, dengar. Ini semua bukan salah
Renia tapi aku yang memulai perasaan ini. Aku mohon pengertian kamu. Sebuah
perasaan tidak bisa dipermainkan. Kalau aku sempat jadian dengan kamu tanpa ada
perasaan sayang, apa kamu mau?” ujar Kevin memberikan pengertian dan segera
menarik Farah ke dalam pelukannya sembari mengarahkan pandanngannya pada Renia,
gadis hatinya.
Farah tidak kuasa menahan tangisnya,
dekapan Kevin membuatnya tenang.
“Maafkan aku, Far. aku sayang kamu tapi
sebagai seorang kakak terhadap adiknya. Aku cinta Renia. Aku mohon pengertian
kamu” ujar Kevin lembut sembari mengelus rambut Farah.
Entah kenapa mendengar penjelasan Kevin,
membuat Farah bisa menerima semuanya. Sahabatnya saling mencintai, mungkin itu
lebih baik, pikirnya.
“Maafin aku ya” ujar Farah sembari
memeluk Renia.
“Aku juga, nggak jujur sama kamu” balas
Renia.
Farah melepas pelukan Renia dan segera
masuk ke dalam mobilnya, menjauh dari mereka akan membuat perasaan sedikit
tenang untuk sementara waktu.
Kevin dan Renia masih terdiam di
parkiran.
“Dia tidak akan apa-apa” ucap Kevin
menenangkan dan langsung mendekap Renia dalam pelukannya dan mengecup gadis
pencuri hatinya.
“I LOVE YOU”.
== THE END ==
Tidak ada komentar:
Posting Komentar